Saat merebak kabar tentang virus corona, semua orang memikirkan cara untuk menjaga stamina, demikian juga dengan saya sendiri.
Jahe adalah pilihan pertama saya.
Gencarnya iklan tentang jahe dan sejenisnya membuat fikiran semua orang mengarah ke sana.
Saat kondisi normal, tentu kita akan dapat berfikir dengan jernih dan mengatakan bahwa jahe tidak direkomendasi untuk setiap orang dengan riwayat sakit perut, lambung dan sejenisnya.
Dalam kondisi panik ditengah wabah virus, informasi tersebut menjadi hilang.
Saya minum jahe dengan porsi besar untuk beberapa hari dan berakibat diare berkepanjangan.
Setelah melewati 4 hari, baru menyadari bahwa penyebab diare kemungkinan karena terlalu banyak minum jahe.
Hal lain juga dapat terjadi apabila kita terlalu panik dalam menyikapi issue Virus Corona.
Sebagai manusia memang seharusnya kita tetap berusaha ( ikhtiyar ). Tapi tentu kita tidak boleh lupa dengan Allah sebagai pemilik virus tersebut. Kita harus yakin bahwa Allah selalu memberikan kebaikan atas setiap kejadian. Lebih baik mencari kebaikan yang dapat diperioleh atas musibah ini.
Untuk Sektor Pariwisata, pukulan terasa sangat berat
Saat ini semua orang hanya tertarik untuk membeli kebutuhan dasar, bukan kebutuhan tambahan.
Keinginan orang untuk bepergian adalah karena kebutuhan yang mendesak, bukan karena keinginan untuk bersenang - senang atau mencari hiburan.
Boleh dikatakan bahwa daya beli masyarakat untuk kebutuhan sekunder cenderung hampir tidak ada
Kita harus merubah cara pandang tentang perusahaan yang ada
Apabila kita tetap memandang perusahaan adalah sebagai perusahaan lama tentu kita akan bermasalah karena :
- Perusahaan lama setidaknya harus ada transaksi setiap hari
- Stree yang meningkat apabila memaksa adanya transaksi, karena tidak adanya daya beli masyarakat
Hal yang berbeda apabila kita memandang perusahaan sebagai perusahaan baru, dan strategi yang digunakan adalah mengacu pada perusahaan baru :
- Melakukan strategy marketing untuk perusahaan baru
- Menyiapkan hal - hal yang berhubungan dengan perusahaan baru
- Menyiapkan strategi pemasaran yang baru yaitu Digital Merketing sesuai dengan tuntutan jaman
Perlu diperhitungkan juga bahwa saat Corona sudah reda, semua perusahaan ingin segera melakukan transaksi. Ada kemungkinan banyak perusahaan yang melakukan aksi "Bakar Uang" atau memberikan promo - promo atau harga - harga yang menarik.
Bagi perusahaan yang masing menggunakan cara - cara lama, ada kemungkinan akan kesulitan juga karena salah bersaing dalam hal penyebaran informasi produk.
Beberapa cara atau model media sosial dapat digunakan dalam Digital Marketing :
Media Whatsapp
Media yang memberikan kemudayan bagi kita untuk membagi informasi kepada pelanggan kita,
Kekurangan dari model ini adalah, bahwa informasi produk hanya dapat disebarkan kepada pelanggan yang sudah tercantum, alias pelanggan lama.
Pelanggan lama, terkadang hanya tertaris bertransaksi untuk sekali dalam seumur hidup, sebagai contoh pelanggan jamaah haji dan jamaah umrah untuk biro perjalanan. Mereka belum tentu tertarik untuk bertransaksi lagi.
Web Professional
Perusahaan dengan cara lama sangat disarankan untuk membuat web professional sebagai media pemasaran.
Dengan Web professional yang disiapkan secara menarik dan pengelolaan SEO yang baik, tentu hasil yang diperoleh akan jauh berbeda apabila dibanding dengan marketing door to door.
Waktu Dua atau Tiga Bulan dirasa waktu yang Ideal untuk menyiapkan konten dalam web
Ini mungkin salah satu hikmah yang dapat diambil di saat ini.
Dampak pasca Corona tentu tidak hanya menurunnya keinginan untuk berwisata. Group - group dari pemerintahan tentu akan berkurang, karena kemungkinan dana - dana digunakan untuk recovery.
Pihak yang diharapkan tentulah dari individu - individu yang sudah menahan keinginan untuk travelling selama social distance.
Untuk dapat bersaing dengan biro perjalanan besar yang sudah menggunakan media web, biro perjalanan model lama perlu mengikuti metode marketing tersebut yaitu Digital Marketing dengan Web Professional yang dapat menjangkau semua kalangan.
Semoga hal tersebut dalam menjadi renungan untuk mengisi kegiatan di saat Corona
Jahe adalah pilihan pertama saya.
Gencarnya iklan tentang jahe dan sejenisnya membuat fikiran semua orang mengarah ke sana.
Saat kondisi normal, tentu kita akan dapat berfikir dengan jernih dan mengatakan bahwa jahe tidak direkomendasi untuk setiap orang dengan riwayat sakit perut, lambung dan sejenisnya.
Dalam kondisi panik ditengah wabah virus, informasi tersebut menjadi hilang.
Saya minum jahe dengan porsi besar untuk beberapa hari dan berakibat diare berkepanjangan.
Setelah melewati 4 hari, baru menyadari bahwa penyebab diare kemungkinan karena terlalu banyak minum jahe.
Hal lain juga dapat terjadi apabila kita terlalu panik dalam menyikapi issue Virus Corona.
Sebagai manusia memang seharusnya kita tetap berusaha ( ikhtiyar ). Tapi tentu kita tidak boleh lupa dengan Allah sebagai pemilik virus tersebut. Kita harus yakin bahwa Allah selalu memberikan kebaikan atas setiap kejadian. Lebih baik mencari kebaikan yang dapat diperioleh atas musibah ini.
Untuk Sektor Pariwisata, pukulan terasa sangat berat
Saat ini semua orang hanya tertarik untuk membeli kebutuhan dasar, bukan kebutuhan tambahan.
Keinginan orang untuk bepergian adalah karena kebutuhan yang mendesak, bukan karena keinginan untuk bersenang - senang atau mencari hiburan.
Boleh dikatakan bahwa daya beli masyarakat untuk kebutuhan sekunder cenderung hampir tidak ada
Kita harus merubah cara pandang tentang perusahaan yang ada
Apabila kita tetap memandang perusahaan adalah sebagai perusahaan lama tentu kita akan bermasalah karena :
- Perusahaan lama setidaknya harus ada transaksi setiap hari
- Stree yang meningkat apabila memaksa adanya transaksi, karena tidak adanya daya beli masyarakat
Hal yang berbeda apabila kita memandang perusahaan sebagai perusahaan baru, dan strategi yang digunakan adalah mengacu pada perusahaan baru :
- Melakukan strategy marketing untuk perusahaan baru
- Menyiapkan hal - hal yang berhubungan dengan perusahaan baru
- Menyiapkan strategi pemasaran yang baru yaitu Digital Merketing sesuai dengan tuntutan jaman
Perlu diperhitungkan juga bahwa saat Corona sudah reda, semua perusahaan ingin segera melakukan transaksi. Ada kemungkinan banyak perusahaan yang melakukan aksi "Bakar Uang" atau memberikan promo - promo atau harga - harga yang menarik.
Bagi perusahaan yang masing menggunakan cara - cara lama, ada kemungkinan akan kesulitan juga karena salah bersaing dalam hal penyebaran informasi produk.
Beberapa cara atau model media sosial dapat digunakan dalam Digital Marketing :
Media Whatsapp
Media yang memberikan kemudayan bagi kita untuk membagi informasi kepada pelanggan kita,
Kekurangan dari model ini adalah, bahwa informasi produk hanya dapat disebarkan kepada pelanggan yang sudah tercantum, alias pelanggan lama.
Pelanggan lama, terkadang hanya tertaris bertransaksi untuk sekali dalam seumur hidup, sebagai contoh pelanggan jamaah haji dan jamaah umrah untuk biro perjalanan. Mereka belum tentu tertarik untuk bertransaksi lagi.
Web Professional
Perusahaan dengan cara lama sangat disarankan untuk membuat web professional sebagai media pemasaran.
Dengan Web professional yang disiapkan secara menarik dan pengelolaan SEO yang baik, tentu hasil yang diperoleh akan jauh berbeda apabila dibanding dengan marketing door to door.
Waktu Dua atau Tiga Bulan dirasa waktu yang Ideal untuk menyiapkan konten dalam web
Ini mungkin salah satu hikmah yang dapat diambil di saat ini.
Dampak pasca Corona tentu tidak hanya menurunnya keinginan untuk berwisata. Group - group dari pemerintahan tentu akan berkurang, karena kemungkinan dana - dana digunakan untuk recovery.
Pihak yang diharapkan tentulah dari individu - individu yang sudah menahan keinginan untuk travelling selama social distance.
Untuk dapat bersaing dengan biro perjalanan besar yang sudah menggunakan media web, biro perjalanan model lama perlu mengikuti metode marketing tersebut yaitu Digital Marketing dengan Web Professional yang dapat menjangkau semua kalangan.
Semoga hal tersebut dalam menjadi renungan untuk mengisi kegiatan di saat Corona